50 thoughts on “Learning in the Matrix

  1. pendidikan belajar komputer untuk mendukung pembelajaran kita lebih inovatif dan atraktive, jika pandai komputer tanpa diamalkan bagaikan pohon tanpa berbuah….

  2. Khanna terkesan pada bagian kalimat :
    what is the purpose of schools in the first place?”

    Sekolah adalah sebagai tujuan tempat utama untuk kita semua mendapatkan informasi. Informasi yang kita dapatkan diperoleh dari guru-guru kita atau dari perpustakaan. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi yang berkembang pesat didunia pendidikan ikut serta mendorong kita untuk sadar akan pentingnya sekolah dalam menyediakan informasi yang cepat, tepat, dan akurat yang bisa memudahkan anak-anak bangsa untuk mencari langsung ke sebagian ilmu pengetahuan di dunia melalui internet.

    Kemajuan teknologi memudahkan kita semua untuk memperoleh informasi melalui internet yang seharusnya bisa dijadikan media bantuan oleh pihak sekolah dalam proses belajar mengajar yang saat ini disebut dengan “iLearning”, tetapi belum semua sekolah menjalankan proses belajar mengajar dengan cara iLearning karena banyak beberapa faktor yang mempengaruhinya.

    Kita semua merasakan perkembangan media pembelajaran disekolah saat SD, SMP, SMA, sampai kebangku perkuliahan. Media pembelajaran yang hanya dijalankan menggunakan buku, papan tulis, dan kapur yang dilakukan oleh guru kita untuk menyampaikan informasi dan ilmunya kepada kita. Berkembangnya jaman dan hausnya akan ilmu yang didukung dengan kemajuan teknologi internet yang sangat memudahkan kita semua dalam mencari informasi ilmu pengetahuan melalui internet.

    Penelitian yang dilakukan oleh Graham Glass yang tertera pada artikel yang berjudul “What should schools do? (part 1)” dan tepatnya pada kalimat yang Khanna suka yaitu “the primary role of schools should move from providing information to providing inspiration”.

    Khanna sangat setuju dengan penelitian tersebut karena peran utama sekolah yaitu menyediakan informasi untuk memberikan inspirasi kepada para siswanya semua untuk dijadikan tempat dimana kita semua bisa mengetahui apa bakat dan minat yang ada pada diri kita serta mengetahui apa yang akan kita peroleh dimasa depan nanti.

    Tapi sampai saat ini saya melihat masih banyak sekolah yang belum mengerti bahwa tidak semua siswanya mempunyai bakat dan minat yang sama sehingga semua siswa harus memahami semua pelajaran tanpa tau dimana bakatnya. Jadi lebih baik sebelum siswa memulai belajar, adakan sebuah tes untuk mendeteksi dimana letak bakat siswa tersebut supaya dapat dimaksimalkan dalam proses pembelajarannya agar dapat berprestasi dibidangnya.

    Tidak hanya sekedar menuntut dunia pendidikan untuk perkembang mengikuti jaman teknologi yang canggih ini, tetapi kita sebagai tenaga pengajar sebaiknya juga terbuka matanya untuk ikut berpartisipasi mencerdaskan anak bangsa dengan menerapkan teknologi didalamnya sebagai media perantara dalam menyampaikan ilmu pengetahuan. Contohnya seperti yang Pribadi Raharja rasakan, saat ini kita sudah mempunyai 10 Pilar IT iLearning yang disebut dengan TPi. TPi sangat membantu dalam mendukung proses perkuliahan menggunakan metode iLearning. Apa saja yang terdapat didalam 10 Pilar, yaitu : iRme, Rinfo, iDu, iRan, iDuHelp!, Widuri, Rooster, Magics, iMe, dan iSur atau dapat lebih lengkapnya bisa dilihat di link ini mengenai TPi : http://roadmap.ilearning.me/10-pillar-it-ilearning/

    Metode pembelajaran yang sangat bagus untuk diterapkan dalam membantu proses perkuliahan di Raharja saat ini. Bahkan yang terdapat didalam http://kelasinspirasi.org/ dan http://indonesiamengajar.org/ merupakan media yang sangat baik juga dalam memberikan informasi kepada sekolah-sekolah. Kelas Inspirasi ini menjadi solusi bagi para profesional Indonesia yang ingin berkontribusi dengan mengajar di lingkungannya. Hal ini membuka pintu interaksi positif antara kaum profesional dengan dunia sekolah. Ini menunjukkan bahwa kepedulian dan kesadaran pribadi terhadap pendidikan masih tinggi. Ke depannya, Kelas Inspirasi ini diharapkan mampu mendorong kalangan profesional untuk berperan aktif dalam pendidikan melalui kegiatan serupa karena mendidik adalah kewajiban setiap orang terdidik.

    Saat ini Khanna juga masih berperan sebagai mahasiswa yang sedang melatih dirinya untuk menjadi tenaga pengajar yang harus banyak belajar tentang bagaimana baiknya metode pembelajaran di Indonesia ini dibenahi. Pertama yang harus dilakukan yaitu dengan adanya perubahan kurikulum karena tidak semua siswa mempunyai bakat minat yang sama dan memastikan sekolah dapat memberikan kurikulum yang tepat kepada siswa sesuai dengan bakatnya sehingga menghasilkan prestasi yang maksimal.

    Sesuai pengalaman yang Khanna rasakan bahwa Guru adalah teladan yang baik, maka seorang guru harus bisa mendidik karena ia adalah seorang yang terdidik. Apa nasehat yang diberikan oleh guru akan menjadi petunjuk bagi siswanya. Maka itu jadilah guru yang banyak memberikan inspirasi yang baik. Apa yang diajarkan oleh guru adalah pengalaman dan ilmu yang tidak ternilai harganya.

    “Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka.”

    Sumber :
    http://roadmap.ilearning.me/10-pillar-it-ilearning/
    http://kelasinspirasi.org/
    http://indonesiamengajar.org/

  3. Disini saya melihat Graham Glass sedang mengemukakan pendapatnya dengan topik tentang apa tujuan utama dari sekolah ?

    Dimana sebelum ada internet sekolah dan perpustakaan merupakan tempat sumber informasi bagi anak-anak atau siswa. Di sekolah, siswa pun mendapatkan informasi dari guru mereka, yang mana informasi tersebut mereka dapatkan sesuai kehendak dari guru yang memberikan, walaupun belum tentu siswa tersebut ingin atau siap untuk informasi yang diberikan itu.
    Namun setelah adanya internet, anak-anak dapat dengan mudah mendapatkan informasi atau pengetahuan dengan cara yang menarik atau menghibur bagi mereka. Dan mereka bebas mendapatkan informasi ketika mereka menginginkannya bukan ketika orang lain yang menyediakannya untuk mereka.
    Menarik sekali ketika Graham Glass menulis “the primary role of schools should move from providing information to providing inspiration”
    Walaupun hanya satu kalimat namun memiliki arti atau makna yang sangat dalam dan dapat memberikan perubahan yang berarti bagi para siswa atau anak-anak. Menurut saya Providing inspiration is harder than providing information. Karena, providing inspiration adalah sesuatu yang datangnya dari hati, dan sesuatu yang datangnya dari hati pasti akan sampai ke hati juga, sehingga children akan lebih termotivasi. Only the real teacher can do it, and i knew one that always inspiring me (Pa UR) 🙂 .
    Memberikan inspirasi bagi anak-anak akan membuat mereka termotivasi dalam mengeksplorasi matapelajaran dan dapat mengembangkan bakat yang mereka miliki. Dari pada hanya memberikan informasi bagi anak-anak yang belum tentu mereka suka dan akhirnya hanya cukup mereka ketahui saja namun tidak tergugah atau terinspirasi atau termotivasi untuk melakukan eksplorasi.

    Saya menemukan sebuah website menarik di Google yaitu http://kelasinspirasi.org/, yang mana berkaitan dengan artikel dari Graham Glass ini. Di link ini http://kelasinspirasi.org/?page=about juga dijelaskan tentang apa itu Kelas Inspirasi dan sejarah dibentuknya Kelas Inspirasi. Secara garis besar Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para profesional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan untuk cuti satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar SD, yaitu pada Hari Inspirasi. Dan disitu juga terdapat sebuat kutipan untuk para profesional yang ingin berpartisipasi dalam Kelas Inspirasi, “Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka.” 🙂

    Saya sendiri yang saat ini masih berstatus mahasiswa telah mengalami dan masih bahkan terus ingin mengalami yang namanya diberikan inspirasi bukan sekedar diberikan informasi. Terlibat dengan project-project TPi yang ada di Perguruan Tinggi Raharja, dimana saya selalu diberikan inspirasi dan motivasi oleh pembimbing saya yaitu Pa UR dan ditemani dengan teman-teman seperjuangan yang baik, sehingga suasana selalu menyenangkan dan akrab walaupun tetap harus saling berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik. 🙂
    Thanks to Pa UR that always give motivate, knowledge, and inspire to me and hope you always granted a health and long life to keep doing it for many other people 😉

  4. Menurut Ai ini adalah artikel yang menarik. Dimana Graham Kaca berani memberikan ulasan akan apa yang dia alami tentang proses belajar mengajar.

    Disini ada 4 kalimat yang Ai blok..

    “iLearning”
    Mengapa Ai memasukkan iLearning dalam coment ini?
    Karena Ai merasa iLearning adalah hal yang dimaksud oleh Graham Kaca. Dimana iLearning memfasilitasi seluruh siswanya dengan TPi agar siswa dapat dengan mudah menjangkau informasi dunia ini. iLearnig adalah metode pembelajaran era modern yang sangat memanfaatkan teknologi. Dengan iLearning, siswa bisa belajar dimanapun dan kapanpun sehingga tidak menutup bakat-bakat mereka selain belajar, belajar dan belajar. Dengan iLearning siswa dituntut aktif dengan praktikum sehingga siswa bisa memiliki daya ingat lebih panjang dibandingkan hanya teori. Dan juga dengan sendirinya siswa terlatih untuk bisa dengan cepat menyelesaikan tugas-tugasnya karena adanya pengaturan “start-due” dan dengan transparan sudah diberitahu secara objektif poin yang akan didapat. So, learning with iLearning very fun and like playing games.
    Sumber:
    http://widuri.raharja.info/index.php?title=ILearning
    http://untungrahardja.ilearning.me/2013/01/06/thermoilearning-in-raharja/

    “Apa tujuan dari sekolah dahulu dan saat ini?”
    Tujuan utamanya pasti sama untuk mendidik siswa menjadi lebih pintar. Di dalam pelaksanaannya hal tersebut sangat berbeda jauh. Dikatakan saat dulu sekolah adalah satu-satunya tempat untuk mendapatkan informasi. Sedangkan saat ini, informasi bisa didapat dengan mudah darimana saja, terutama internet. Kehadiran internet seharusnya bisa membantu pihak sekolah yang masih menjalankan proses belajar mengajar konvensional untuk beralih ke era modern. Sayangnya hal tersebut tidak bisa berpindah dengan mudah karena banyak faktor.

    “The primary role of school move from providing information to providing inspiration”
    Ai sangat setuju dengan kalimat tersebut. Sebuah sekolah atau tempat belajar harus bisa memberikan inspirasi kepada anak didiknya, sekolah harus menjadi tempat dimana siswa bisa menemukan bakatnya dan mencari tau apa yang bisa siswa lakukan dengan bakatnya tersebut. Masih banyak sekolah yang belum mengerti bahwa siswa tidak memiliki kemampuan dan bakat yang sama.
    Jadi saat ini sekolah hanya bisa mulai penjurusan dari SMK.
    Dan tidak hanya sekolah yang bisa menginspirasi siswanya, tapi hal terpenting datang dari guru yang siswa dapatkan. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, tapi bukan berarti seorang guru hanya menjalankan system one way dalam proses belajar mengajarnya. Guru saat ini masih beranggapan mereka lebih pintar, dan dalam paradigma guru yang sudah tertanam adalah mereka mengajar, bukan “share”. Padahal seorang guru harus bisa membuat siswanya berimajinasi setiap apa yang diucapkan, harus bisa membuat hati siswanya tergerak untuk berusaha maksimal atas setiap arahan yang diberikan. Bahkan guru harus bisa membuat stragtegi agar siswanya bisa semangat dalam pelajaran tersebut, walaupun dikasih tugas-tugas tapi siswa tersebut malah happy dan semangat mau menyelesaikannya.
    Dan menurut Ai guru yang bisa menjadi inspirasi salah satunya adalah P’ Ur.

    “Thanks to on-demand streaming and other technologies”
    Yaah teknolgi sangat berkembang pesat dan membantu dalam banyak hal terutama pendidikan. Saat ini siswa jika ingin tau hal A, hal B tidak perlu datang ke sekolah tunggu gurunya jelasin. Siswa cukup meminta fasilitas dari orang tuanya sampai akhirnya siswa bisa mencari berbagai macam informasi di internet dan utube. Dulu saat Ai sekolah SMA, paling malas yang namanya belajar buka buku, bahkan terkadang males bawa buku pelajaran karena alasan berat. Tapi saat ini ga perlu yang namanya bawa buku, siswa hanya cukup bawa satu gadget aja udah bisa lebih banyak tau daripada gurunya. Itulah kecanggihan teknologi yang bisa membuat siswanya berkembang lebih cepat dengan mengetahui banyak informasi. Walau dalam hal ini juga pasti ada sisi positif dan sisi negative.

    Dan saran Ai, sekolah harus bisa mengetahui bakat siswanya sebelum mereka mulai belajar di sekolah tersebut.
    Dan pihak pendidikan harus merubah kurikulum, karena dengan banyaknya hal yang harus dipelajari siswa malah akan membuat siswa tersebut terbebani.
    Guru pun harus bisa menjadi inspirasi siswa, jika guru bisa menjadi inpirasi siswanya maka siswa tersebut akan selalu ingat apa yang dianjurkan gurunya. Seperti halnya seorang siswa yang suka dengan Spider-Man, maka siswa tersebut akan passionate dengan Spider-Man.
    Dan pastinya jangan paksa siswa untuk terus belajar dari pagi hingga sore ditambah jam kursus dll hingga siswa tidak memiliki waktu bermain dengan seusia mereka. Let it flow.
    Sumber:
    http://www.oecd.org/site/eduilebanff/48763522.pdf

  5. Beberapa point penting yang saya catat dari tulisan tersebut, bahwa peran sekolah adalah sebagai berikut:
    1. Tidak hanya memberikan informasi tapi juga memberikan inspirasi
    2. Mendorong siswa untuk mengidentifikasi dan mengembangkan bakat mereka
    Hal pertama yang perlu didiskusikan dalam hal ini adalah Apakah Sekolah. Definisi Sekolah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) http://kbbi.web.id/sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Sedangkan menurut Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah tujuan dari Sekolah adalah mengajarkan anak untuk menjadi anak yang mampu memajukan bangsa. Mengacu dari definisi sekolah tersebut maka pendidikan di sekolah harus mempunyai tujuan yang hendak dicapai kepada anak didiknya. Maka dalam proses belajar mengajar ada proses pemberian informasi dan juga pemberian inspirasi. Hal ini dijelaskan juga dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, yang berisi tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

    Melalui proses pendidikan di sekolah diharapkan akan terbentuk siswa yang cerdas yang mampu mengidentifikasi dan mengembangkan bakat mereka. Nah ini sudah sejalan dengan visi yang dipunyai Kementrian Pendidikan Nasional yaitu membentuk insan Indonesia cerdas spritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis http://kemdikbud.go.id/dokumen/pdf/renstra/Bab-III.pdf.

    Berdasarkan pengalaman saya mengajar di HomeSchooling, proses belajar mengajar di sekolah membutuhkan dukungan dari rumah dan lingkungan sekitar. Karena proses di sekolah hanya bersifat informatif dan inspiratif sedangkan di rumah disinilah proses pembelajaran yang sesungguhnya dimana peran orang tua tidak hanya guru tetapi juga contoh real bagi anak-anaknya. Ketika mereka sampai di lingkungan sosialnya maka disitulah aplikasi atau penerapannya. Maka kerjasama sekolah, rumah dan lingkungan sosial anak-anak akan sangat mempengaruhi kecerdasan dan pola pikir yang terbentuk pada diri mereka.

    Point-point yang dijelaskan oleh Graham Glass di dunia pendidikan Indonesia sudah lama dikenal. Hal ini sudah ada juga dalam pandangan hidup yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara: ing ngarso suntulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani yang mempunyai arti di depan menjadi teladan, di tengah membangkitkan semangat dan dari belakang mendukung, merupakan semboyan bagi Sekolah dan perangkatnya di Indonesia yang tidak akan lekang oleh waktu.

    Syukran Fadhilah

  6. Disini saya melihat Graham Glass sedang mengemukakan pendapatnya dengan topik tentang apa tujuan utama dari sekolah ?
    Dimana sebelum ada internet sekolah dan perpustakaan merupakan tempat sumber informasi bagi anak-anak atau siswa. Di sekolah, siswa pun mendapatkan informasi dari guru mereka, yang mana informasi tersebut mereka dapatkan sesuai kehendak dari guru yang memberikan, walaupun belum tentu siswa tersebut ingin atau siap untuk informasi yang diberikan itu.
    Namun setelah adanya internet, anak-anak dapat dengan mudah mendapatkan informasi atau pengetahuan dengan cara yang menarik atau menghibur bagi mereka. Dan mereka bebas mendapatkan informasi ketika mereka menginginkannya bukan ketika orang lain yang menyediakannya untuk mereka.
    Menarik sekali ketika Graham Glass menulis “the primary role of schools should move from providing information to providing inspiration”
    Walaupun hanya satu kalimat namun memiliki arti atau makna yang sangat dalam dan dapat memberikan perubahan yang berarti bagi para siswa atau anak-anak. Menurut saya Providing inspiration is harder than providing information. Karena, providing inspiration adalah sesuatu yang datangnya dari hati, dan sesuatu yang datangnya dari hati pasti akan sampai ke hati juga, sehingga children akan lebih termotivasi. Only the real teacher can do it, and i knew one that always inspiring me (Pa UR) 🙂 .
    Memberikan inspirasi bagi anak-anak akan membuat mereka termotivasi dalam mengeksplorasi matapelajaran dan dapat mengembangkan bakat yang mereka miliki. Dari pada hanya memberikan informasi bagi anak-anak yang belum tentu mereka suka dan akhirnya hanya cukup mereka ketahui saja namun tidak tergugah atau terinspirasi atau termotivasi untuk melakukan eksplorasi.
    Saya sendiri yang saat ini masih berstatus mahasiswa telah mengalami dan masih bahkan terus ingin mengalami yang namanya diberikan inspirasi bukan sekedar diberikan informasi. Terlibat dengan project-project TPi yang ada di Perguruan Tinggi Raharja, dimana saya selalu diberikan inspirasi dan motivasi oleh pembimbing saya yaitu Pa UR dan ditemani dengan teman-teman seperjuangan yang baik, sehingga suasana selalu menyenangkan dan akrab walaupun tetap harus saling berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik. 🙂
    Thanks to Pa UR that always give motivate, knowledge, and inspire to me and hope you always granted a health and long life to keep doing it for many other people 😉

  7. Setelah saya baca, isi dari artikel tersebut adalah tentang metode belajar antara masa non teknologi dengan masa kini. Di masa non teknologi perkembangan teknologi pada sekolah sangatlah kurang seperti untuk mengetahui sebuah informasi siswa harus bertanya kepada guru di sekolah nya atau melihat di mading sekolah, sedangkan dengan perkambangan teknologi masa kini perbandingannya sangat jauh sekali untuk sebuah informasi saat ini sudah mulai bisa di akses melalui internet yang bisa di lihat kapanpun dan dimanapun,
    Menurut saya, Tujuan sekolah untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan layanan pendidikan yang unggul yang ditandai layanan pendidikan dengan berbagai model pembelajaran dan teknologi pembelajaran terutama penggunaan Laptop, LCD proyektor serta internet dalam kegiatan pembelajaran.
    Pengalaman yang saya dapat sampai saat ini dalam dunia pendidikan IT haruslah serba update mulai dari OS, Software bahkan Hardware karena perkembangan jaman yang semakin pesat mengharuskan kita untuk mengikuti dan mempelajari hal tersebut.

  8. Setelah saya membaca artikel “what should schools do?” yang artinya “apa yang harus sekolah lakukan?” ada beberapa point yang saya tangkap antara lain :

    1. Seiring perkembangan IPTEK saat ini, sekolah pun harus mencari terobosan dalam hal kurikulum pendidikan bagi anak jaman sekarang
    2. Dampak positif dan negatif yang ditimbulkan dengan adanya tekhnologi sekarang ini
    3. Peran keluarga dalam tumbuh kembang anak

    Saat ini mulai banyak dikembangkan sistem pendidikan alternatif untuk anak selain di sekolah. Homeschooling mulai menjadi pilihan masyarakat sebagai alternatif metode pendidikan karena beberapa hal, misalnya karena adanya keinginan masyarakat untuk lebih fleksibel dalam mendidik anak, menyediakan sistem pendidikan yang lebih ramah terhadap perkembangan anak, maupun menjamin bahwa proses belajar mengajar anak bisa terlaksana secara maksimal. Anak seharusnya boleh berfikir bebas, bereksperimen dan menikmati proses belajarnya tanpa merasakan tekanan. Guru harus diberi otoritas penuh untuk mengatur kurikulumnya sendiri. Setiap anak juga tidak dibebani dengan tugas ini dan itu. Bahkan birokrasi pendidikan kita yang berbelit-belit perlahan-lahan harus dikurangi.

    Sebagai orangtua saya merasakan sekali manfaat internet dalam kehidupan keseharian kami. Karena kami berdua akrab dengan teknologi, maka anak-anak pun tumbuh cukup akrab dengan teknologi sejak dini. Teknologi juga menjadi tempatku mencari beragam informasi yang terkait dengan pendidikan anak-anak seperti ide kegiatan, materi belajar sampai aneka tips parenting. Ketika anak-anak mulai mandiri, teknologi bahkan meringankan bebanku dalam mengajari mereka. Dari mulai belajar matematika, bahasa Inggris, sains, pengetahuan umum, hingga ke keterampilan non akademis seperti prakarya, musik, menggambar, komputer, desain grafis, animasi, 3D, kolaborasi dll dipelajari anak-anak melalui internet.

    Bagaimana cara kami memperkenalkan teknologi kepada anak-anak?

    Saya memperkenalkan cinta teknologi yang sehat kepada anak-anak, memperkenalkan teknologi sebagai “alat” yang mempermudah banyak hal. Kami berharap anak-anak tumbuh dengan melihat komputer sebagai alat kerja sekaligus alat hiburan.

    Jadi, perkenalan awal anak-anak dengan teknologi itu berada dalam pengawasan kami. Kami tak membiarkan mereka mencari sendiri, tetapi kami memperkenalkan aturan main sejak mereka baru mengenal internet. Aturan main itu membuat mereka tak hanya main game atau mengakses internet sesuka hati mereka. Jika mereka mengakses materi yang menurut kami tidak bagus, kami akan meminta mereka untuk berganti dengan yang lain. Termasuk di dalam materi perkenalan itu adalah mengenalkan kegiatan belajar melalui internet dan kegiatan produktif lainnya.

    Jadi begitulah kami memperkenalkan teknologi kepada anak-anak. Kami memang memperkenalkan teknologi sejak dini, tapi kami temani prosesnya, kami ajak ngobrol, kami bangun logika produsen dalam kepala mereka sehingga mereka melihat teknologi tidak hanya sebagai pengguna tapi bagaimana caranya bisa menjadikan teknologi sebagai alat untuk membuat sesuatu untuk berkarya.

    Apakah kami punya aturan main khusus tentang teknologi?

    Tentu kami punya.

    Pertama, semua gadget & alat teknologi di rumah statusnya adalah milik kami (orang tua). Anak-anak hanya punya hak pakai, statusnya meminjam. HP yang dibawanya pun adalah HP yang hanya punya fasilitas telpon&SMS.

    Kedua, komputer & gadget adalah “alat untuk berkarya”. Mereka tidak boleh menggunakannya untuk bermain games atau nonton Youtube di hari Senin-Jumat kecuali ada perjanjian khusus misalnya sedang libur sekolah

    Ketiga, teknologi bukan segalanya. Kami berusaha mencari keseimbangan antara screen time dan physical activities dengan cara mengekspose anak-anak pada banyak kegiatan fisik di luar rumah.

    Keempat, kami membuat kesepakatan dengan anak-anak tentang jenis game yang boleh mereka mainkan mana yang tidak. Tak ada game perang dan fighting di rumah

    Hal paling penting dalam pembuatan aturan adalah menegakkan keempat peraturan ini dengan tegas. Tidak perlu pakai marah, tapi tegas. Kalau tidak ya tidak. Kalau melanggar ada konsekwensinya. Konsekwensinya pun hasil kesepakatan dengan mereka.

    Tentu kami mengalami masa pasang-surut keberhasilan sekaligus kegagalan dalam menghantarkan anak-anak mengarungi lautan digital ini. Kami pun mengalami beragam dilema rasa, dan ketika itu terjadi maka tak ada cara lain selain menjadikan setiap kejadian sebagai cara belajar, “when life gives you lemon, make lemonade”. Salah satu dilema besar adalah ketika kami mendapati anak mulai tergantung pada komputer & gadget.

    Teknologi untuk kegiatan belajar
    Selain mengenalkan pada Internet & gadgetpada hal-hal yang asyik dan produktif, kami menggunakannya secara ekstensif dalam kegiatan anak-anak. Setiap hari anak-anak selalu memiliki menu belajar yang menggunakan Internet & gadget, misalnya belajar matematika (IXL Math), belajar bahasa Inggris (Reading A to Z, Raz Kids, Starfall, Reading Eggs), sains, dan lain-lain. Anak-anak pun sejak dini belajar untuk menggunakan tutorial dalam kegiatan mereka.

  9. Pada alinea pertama artikel ini (saat gelas yang berisi susu coklat saya masih terasa hangat) saya langsung disuguhi kata yang menjadi topik penting dari pandangan penulis dalam artikel ini yang mengatakan “what is the purpose of schools in the first place?” pertanyaan ini dijawab sendiri oleh penulis pada aline ke enam dengan mengatakan “is that the primary role of schools should move from providing information to providing inspiration” dan sisini penulis menggunakan teknologi informasi untuk mencapai tujuan tersebut, karena menurutnya teknologi informasi dapat berfungsi sebagai media informasi (yang cukup efektif) untuk menginspirasi siswa dalam menemukan bakatnya, kemudian saya mencoba benturkan dengan tujuan pendidikan dasar sebagaimana ditetapkan dalam pasal 13 Undang-undang nomor 2 tahun 1989 yang mengatakan bahwa pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan kemampuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup di dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. (http://sdn-medangasem03.blogspot.com/2010/07/tujuan-pendidikan-sekolah-dasar.html?m=1)
    Setelah saya bandingkan antara tujuan pendidikan dasar di Indonesia dengan tujuan pendidikan di sekolah dasar yang digagas oleh Graham Glass dalam Learning In The Matrix saya (mencoba) mengambil kesimpulan bahwa tujuan pendidikan dasar di Indonesia yang diatur dalam undang-undang sangat lengkap dan konpleks jika dibandingkan dengan apa yang digagas oleh penulis dalam artikel Learning In The Matriks. Sehingga hal ini (menurut saya) memunculkan kelebihan dan kekurangan, sebagai berikut:
    Tujuan pendidikan dasar
    Pasal 13 Undang-undang nomor 2 tahun 1989 Graham Glass (Learning in the Matrix)
    Kelebihan :
    Sangat lengkap, karena peserta didik diarahkan agar memiliki sikap, kemampuan dan keterampilan untuk hidup di masyarakat Kelebihan:
    Sederhana dan terarah, hal ini tentu akan sangat memudahkan guru dalam usaha-usaha pencapaiannya
    Kekurangan :
    Terlalu kompleks, ini bisa menyulitkan guru dalam implementasinya karena tidak semua guru memiliki sumber daya yang memadai untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut Kekurangan:
    Penulis tidak menjelaskan arah pendidikan setelah mereka bisa menginspirasi murid-muridnya, artinya boleh jadi inspirasi itu justru melahirkan anak anak yang cerdas tapi tidak berakhlak sehingga kemampuan inspirasinya tadi untuk berbuat kejahatan dan pelanggaran.
    Dari apa yang saya amati dalam kehidupan sosial masyarakat timur (khususnya Indonesia) dan barat yang mengedepankan kebebasan dalam inspirasi, bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi bolehlah menjadi milik barat ini dikarenakan karena bagi mereka proses berpikir (inspirasi) adalah segalanya, sehingga banyak teknologi-teknologi baru tercipta dari sana (barat), sementara di Indoesia kebanyakan orang lebih berpikir untuk menggunakan (consumptive) ketimbang menciptakan sesuatu yang baru (creative).
    Saran saya untuk para guru (khususnya di tingkat dasar), jadilah busur untuk anak-anak didik anda, arahkan mereka kepada apa yang mereka mau tapi jangan lupa arahkan kepada tempat yang baik, yang menimbulkan manfaat dan kebaikan untuk dirinya, keluarganya, agamanya, dan bangsa dan negaranya.

    • sebenarnya itu ada tabelnya, tapi ga muncul, jadi buat temen2 silahkan baca untuk lebih lengkapnya di Idu aja ya

  10. Dear Mr. UR,

    Sedikit yang bisa saya komentari untuk artikel dengan judul “what should schools do?” atau dalam bahasa indonesianya “apa yang harus sekolah lakukan?” memang menjadi bahan yang menarik untuk diperbincangkan terutama di Negara kita tercinta Indonesia yang sampai dengan saat ini masih mencari-cari cara terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi peserta didik di semua tingkat pendidikan baik tingkat taman kanak-kanak hingga tingkat Peguruan Tinggi. Sehingga kurikulum yang berlaku di Negara kita seringkali berubah seperti yang kita ketahui kurikulum KTSP hingga yang terbaru saat ini adalah kurikulum 2013.

    Namun pada artikel tersebut yang menarik bagi saya yaitu “that the primary role of schools should move from providing information to providing inspiration” dimana kutipan tersebut mengandung arti bahwa peran utama dari sekolah harus bergerak dari memberikan informasi menjadi memberikan inspirasi. Inspirasi disini menurut saya lekat dengan bagaimana sekolah mampu memotivasi siswa agar tetap menjadikan sekolah sebagai sarana mencari ilmu pengetahuan yang menarik.

    Motivasi merupakan satu unsur paling penting untuk pengajaran efektif. Motivasi juga merupakan komponen yang sukar untuk diukur karena setiap orang mempunyai motivasi berbeda-beda dan naik-turun. Ahli psikologi pendidikan mendefinisikan motivasi sebagai suatu proses internal yang mengaktifkan, membimbing, dan mempertahankan perilaku dalam waktu tertentu (Baron, 1992). Singkatnya, motivasi adalah apa yang membuat seseorang berbuat, membuat seseorang tetap berbuat, dan menentukan ke arah mana yang hendak diperbuat.

    Dalam sekolah, semua siswa pada umumnya termotivasi. Termotivasi untuk melakukan apa? Sejumlah siswa lebih termotivasi untuk bermain game online atau melihat sepak bola daripada mengerjakan tugas sekolah. Beberapa siswa juga lebih termotivasi untuk facebook-an dan tweeter-an daripada belajar di rumah. Lalu bagaimana tugas seorang guru? Tugas guru bukan meningkatkan motivasi itu sendiri tetapi menemukan, menggugah, dan mempertahankan motivasi siswa untuk belajar dan terlibat akivitas dalam pembelajaran di kelas dan di luar kelas.

    Memotivasi siswa agar mengerahkan upaya untuk belajar dapat dilakukan dengan motivasi yang cenderung pada nilai motivasional dari isi pelajaran yang dipaparkan. Terkadang suatu pelajaran begitu asyik dan menyenangkan bagi siswa sehingga mereka mau untuk mengerjakan tugas dari pelajaran itu. Selain itu ada pula motivasi yang berhubungan dengan penggunaan pujian, balikan (feedback), dan insentif (ganjaran). Di mana siswa termotivasi untuk belajar dan mengerjakan tugas berdasarkan pada feedback yang ditawarkan gurunya tersebut.

    Namun memotivasi tidak hanya sebatas itu, memotivasi bisa lebih dikembangkan lagi oleh seorang guru dengan banyak macam cara sebagai contoh dengan cara memberikan tugas kelompok yang menarik, mengajar dengan alat peraga dan bahasa yang menarik, atau dapat pula mengajar dengan memanfaatkan teknologi seperti menggunakan gambar bergerak, music bahkan video. Berhasilnya memotivasi siswa akan meningkatkan daya belajar siswa sehingga kualitas pendidikanpun diharapkan meningkat.

    Demikian sedikit komentar yang dapat saya sampaikan untuk artikel “Learning in the matix – what should schools do?”. Semoga berkenan… semangat ^_^

  11. Dear Pak UR,

    Setelah saya membaca artikel yang bapak berikan, saya menanggapi bahwa artikel ini bercerita sebuah perubahan zaman yang begitu drastis didalam dunia informasi, terlebih khusus dunia pendidikan.

    Pada zaman sebelum adanya internet, ”informasi adalah ilmu pengetahuan, yang merupakan suatu hal yang mahal” dan sekolah adalah tempat mendapatkan ilmu pengetahuan. Namun seiring waktu, teknologi internet menawarkan sebuah tempat informasi yang menembus ruang dan waktu yang mempermudah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tersebut.

    Penulis artikel juga menyebutkan bahwa beberapa sekolah berusaha untuk merubah cara mengajar yang kaku dan baku menjadi lebih baik dan fleksibel untuk diterapkan diabad ke-21 (“Some schools are attempting to break out of the mold of delivering lecture-style blocks of canned information and trying new approaches that are better suited to the 21st century. But what approach should they take?) , dimana peran utama sekolah bukan hanya sekedar memberikan informasi akan tetapi harus menjadi sebuah inspirasi.

    Sebagai contoh daerah terpelosok yang ada di bagian indonesia timur yang masih minim dalam pendidikan, teknologi dan informasi, salah satunya adalah Kepulauan Sangihe (Bagian timur – utara Indonesia). Ketika saya masih duduk dibangku SMA, didaerah tempat saya berasal ini sarana pendidikan sangat memperhatikan dan kurangnya para pengajar yang berkompetensi, serta minimnya tingkat pendidikan yang dimiliki masyarakat membuat para pelajar hanya menjadi korban mode dan liar.

    Namun saat saya kembali pada 3 tahun yang lalu, dan internet sudah masuk ketempat kami (walaupun kecepatannya hanya 50kb dan itu hanya ada di Lab Komputer Pemerintah Daerah). Mampu membuat perubahan drastis dalam segala aspek, terlebih dalam bidang pendidikan dan informasi. Dimana waktu itu para pelajar telah mampu:
    1. Mencari bahan tugas sekolah dan informasi ter-update sudah melalui internet.
    2. Mendapatkan dan mengumpulkan tugas sekolah dengan menggunakan Email.
    3. Mengenal media sosial, dll.
    4. Serta mampu berdagang secara online.

    Meskipun perubahan drastis tersebut tidak seperti di Ibu Kota Jakarta, akan tetapi disini saya bersyukur bahwa Teknologi Informasi mempengaruhi dan merubah standart pendidikan, pola pikir dan gaya hidup masyarakat didaerah tempat saya berasal menjadi lebih baik dan terus berkembang.

    Dan 10 Pilar IT iLearning (TPi) merupakan salah satu contoh teknologi yang terbaik, yang mampu menjawab artikel ini. Dan cocok sekali untuk diterapkan dibidang Pendidikan berbasis Teknologi Informasi.
    Terimakasih pak UR untuk TPi dan artikelnya

    #Referensi:
    http://roadmap.ilearning.me/10-pillar-it-ilearning/
    http://mit.ilearning.me/sistem-aplikasi-terintegrasi-pada-perguran-tinggi-raharja-menggunakan-i-learning/#more-131
    http://ahmadtabrani.ilearning.me/2013/10/31/theilearning-experience/#more-14

  12. Dalam buku “Menuju Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan”, Mantan Dirjen Dikdasmen Depdiknas (kini Kemendiknas), Indrajati Sidi, Ph.D (2002) menjelaskan bahwa perubahan visi belajar di sekolah sesuai dengan visi pendidikan UNESCO abad ke-21, yang lebih mendasarkan pada paradigma learning, tidak lagi pada teaching.
    Visi tersebut adalah :
    (1) learning to think (belajar berfikir, berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional),
    (2) learning to do (belajar berbuat / hidup, berorientasi pada how to solve the problem,
    (3) learning to be, (belajar menjadi diri sendiri, berorientasi pada pembentukan karakter),
    (4) learning to live together (belajar hidup bersama, mengarahkan pada kerja sama dan sikap toleran).

    Menurut saya perubahan paradigma ini akan mengubah cara guru dalam mengajar di ruang kelas. Kini, guru harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada para siswa untuk dapat belajar secara aktif melalui metode pengajaran ceramah yang dapat merangsang siswa agar lebih banyak bertanya atau berpendapat dalam suasana diskusi yang menyenangkan.Sehingga dengan metode ini akan dapat membangun kemampuan logika berfikir siswa yang lebih sistematis dan cerdas. Siswa akan lebih mampu dalam mengemukakan pendapatnya sendiri dengan kata-kata atau kalimat yang disusun sendiri berdasarkan logika dan kerangka berfikir sendiri. Siswa akan terbiasa memahami berbagai pendapat yang berbeda dari teman-temannya, sekaligus membiasakan diri untuk mengembangkan sikap toleransi dan semangat bekerjasama dalam beragam perbedaan yang terjadi. Tentu saja, hal ini berarti sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran yang akan jauh lebih efektif dalam pembentukan karakter dan kerpibadian siswa yang positif.

    Saya memang belum banyak berpengalaman dalam dunia mengajar,akan tetapi jika di lihat dari sekitar yang ada selama ini ada Perkembangan teknologi sudah dapat memberikan pengaruh yang positif bagi pendidikan sekolah, tidak hanya untuk guru tetapi juga untuk muridnya. Disamping ada pengaruh positif , ada pengaruh negatifnya terhadap perkembagan teknologi, seperti :
    1. Anti sosial
    Kehadiran teknologi membuat mereka menjauhi pergaulan secara langsung dan hal ini akan memberi peluang terhadap gejala gangguan kepribadian “Anti sosial” untuk berkembang.
    2. Kurang empati
    Teknologi membuat anak jarang mengolah perasaan nya terhadap kesulitan orang lain. Hal ini tentu akan melahirkan sebuah pribadi yang angkuh dan sombong
    3. Antipati lingkungan/alam
    Kurang berinteraksi dengan alam membuat anak tidak sadar lingkungan. Padahal mereka adalah generasi yang harus melestarikan alam dan lingkungan untuk kelangsungan hidup manusia, apalagi eksploitasi alam semakin merajalela.
    4. Perilaku konsumtif
    Teknologi yang berkembang pesat dengan tambahan fitur-fitur yang semakin canggih, membuat anak selalu menuntut pembaruan gadget dan tidak pernah puas akan gadget yang di milikinya.
    5. Krisis akhlak & moral
    Canggih nya teknologi membuat anak bisa mengakses apa saja termasuk pornografi dan berita kriminal yang akan menjadi acuan tindakan kriminal sebagai solusi pemecahan masalah. Ini di sebabkan proses ‘meniru’ pada anak sangat tinggi.
    Pengaruh negatif diatas bisa di atasi bila mana senantiasa orang tua dan guru tetap membatasi anak atau muridnya untuk menggunakan alat Teknologi dan informatika sesuai porsinya. Sehingga ada keseimbangan di antara kebutuhan teknologi dengan kebutuhan yang bersifat non teknologi.

    Terima kasih.

  13. Negeri ini, seperti halnya negara-negara lainnya, sedang menghadapi Pressure Groups untuk pengembangan pendidikan. Tekanan eksternal ini berupa arus globalisasi ilmu teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan teknologi informasi tidak akan pernah habisnya, penggunaan komputer dan intrnet sudah menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari hari.
    Untuk itu penelitian saya , perlu adanya SDM (sumber daya manusia)
    Sesuai dari sumber buku
    “TRANSFORMASI PENDIDIKAN DI INDONESIA DAN TANTANGAN DI MAS DEPAN” (Drs. Sugeng Riadi)
    Diantaranya empat masalah pokok akan di prioritaskan yaitu
    1. SDM (sumber daya manusia)
    2. Akses informasi
    3. Teknologi
    4. Pertukaran teknologi
    Salah satu tantangan besar bagi masa depan Indonesia adalah kualitas pendidikan bagi generasi mendatang. Dengan perkembangan modernisasi dan teknologi, informasi dan komunikasi dalam era globalisasi (abad 21) ini terjadi perubahan-perubahan dengan amat cepat dalam segala bidang.Sebagaimana kemukakan oleh Mochtar Buchori “ Tidak akan ada lagi suatu Negara atau bangsa yang dapat menyelesaikan segenap persoalannya seorang diri tanpa bekerjasama dengan Negara lain.”
    Menurut saya ada faktor-faktor yang menghambat siswa kreatif/ bakat.
    1. Sikap guru 2. Belajar hafalan 3. Tekanan
    Sesuai dengan paragraf ke lima (5), diperlukan pendekatan yang baru yaitu. Pribadi, Pendorong, Proses, dan Produk .
    Pengalaman mengajar dari tahun 1994 sampai sekarang terus banyak perubahan, disesuaikan perubahan kurikulum. Untuk itu Saya tidak mau di katakan (GAPTEK) atau KUPER atau yang lebih kasar lagi Nora. Maka saya harus meningkatkan SDM saya. Agar saya dapat mengetahui dan mengikuti perkembangan yang ada saat ini. Salah satunya dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi.Ilmu atau Pengetahuan yang saya dapatkan, saya terapkan di sekolah . misalnya tentang internet, selain cari buku diperpustakaan siswa di anjurkan untuk mencari informasi di internet. Dan tugas-tugas di kirim melalui email. Dan esokan harinya di bahas dan di adakan Tanya jawab sesuai dengan kurikulum 2013

  14. Menurut Ai ini adalah artikel yang menarik. Dimana Graham Kaca berani memberikan ulasan akan apa yang dia alami tentang proses belajar mengajar.

    Disini ada 4 kalimat yang Ai blok..

    “Apa tujuan dari sekolah dahulu dan saat ini?”
    Tujuan utamanya pasti sama untuk mendidik siswa menjadi lebih pintar. Di dalam pelaksanaannya hal tersebut sangat berbeda jauh. Dikatakan saat dulu sekolah adalah satu-satunya tempat untuk mendapatkan informasi. Sedangkan saat ini, informasi bisa didapat dengan mudah darimana saja, terutama internet. Kehadiran internet seharusnya bisa membantu pihak sekolah yang masih menjalankan proses belajar mengajar konvensional untuk beralih ke era modern. Sayangnya hal tersebut tidak bisa berpindah dengan mudah karena banyak faktor.

    “The primary role of school move from providing information to providing inspiration”
    Ai sangat setuju dengan kalimat tersebut. Sebuah sekolah atau tempat belajar harus bisa memberikan inspirasi kepada anak didiknya, sekolah harus menjadi tempat dimana siswa bisa menemukan bakatnya dan mencari tau apa yang bisa siswa lakukan dengan bakatnya tersebut. Masih banyak sekolah yang belum mengerti bahwa siswa tidak memiliki kemampuan dan bakat yang sama.
    Jadi saat ini sekolah hanya bisa mulai penjurusan dari SMK.
    Dan tidak hanya sekolah yang bisa menginspirasi siswanya, tapi hal terpenting datang dari guru yang siswa dapatkan. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, tapi bukan berarti seorang guru hanya menjalankan system one way dalam proses belajar mengajarnya. Guru saat ini masih beranggapan mereka lebih pintar, dan dalam paradigma guru yang sudah tertanam adalah mereka mengajar, bukan “share”. Padahal seorang guru harus bisa membuat siswanya berimajinasi setiap apa yang diucapkan, harus bisa membuat hati siswanya tergerak untuk berusaha maksimal atas setiap arahan yang diberikan. Bahkan guru harus bisa membuat stragtegi agar siswanya bisa semangat dalam pelajaran tersebut, walaupun dikasih tugas-tugas tapi siswa tersebut malah happy dan semangat mau menyelesaikannya.
    Dan menurut Ai guru yang bisa menjadi inspirasi salah satunya adalah P’ Ur.

    “Thanks to on-demand streaming and other technologies”
    Yaah teknolgi sangat berkembang pesat dan membantu dalam banyak hal terutama pendidikan. Saat ini siswa jika ingin tau hal A, hal B tidak perlu datang ke sekolah tunggu gurunya jelasin. Siswa cukup meminta fasilitas dari orang tuanya sampai akhirnya siswa bisa mencari berbagai macam informasi di internet dan utube. Dulu saat Ai sekolah SMA, paling malas yang namanya belajar buka buku, bahkan terkadang males bawa buku pelajaran karena alasan berat. Tapi saat ini ga perlu yang namanya bawa buku, siswa hanya cukup bawa satu gadget aja udah bisa lebih banyak tau daripada gurunya. Itulah kecanggihan teknologi yang bisa membuat siswanya berkembang lebih cepat dengan mengetahui banyak informasi. Walau dalam hal ini juga pasti ada sisi positif dan sisi negative.

    “iLearning”
    Mengapa Ai memasukkan iLearning dalam coment ini?
    Karena Ai merasa iLearning adalah hal yang dimaksud oleh Graham Kaca. Dimana iLearning memfasilitasi seluruh siswanya dengan TPi agar siswa dapat dengan mudah menjangkau informasi dunia ini. iLearnig adalah metode pembelajaran era modern yang sangat memanfaatkan teknologi. Dengan iLearning, siswa bisa belajar dimanapun dan kapanpun sehingga tidak menutup bakat-bakat mereka selain belajar, belajar dan belajar. Dengan iLearning siswa dituntut aktif dengan praktikum sehingga siswa bisa memiliki daya ingat lebih panjang dibandingkan hanya teori. Dan juga dengan sendirinya siswa terlatih untuk bisa dengan cepat menyelesaikan tugas-tugasnya karena adanya pengaturan “start-due” dan dengan transparan sudah diberitahu secara objektif poin yang akan didapat. So, learning with iLearning very fun and like playing games.

    Dan saran Ai, sekolah harus bisa mengetahui bakat siswanya sebelum mereka mulai belajar di sekolah tersebut.
    Dan pihak pendidikan harus merubah kurikulum, karena dengan banyaknya hal yang harus dipelajari siswa malah akan membuat siswa tersebut terbebani.
    Guru pun harus bisa menjadi inspirasi siswa, jika guru bisa menjadi inpirasi siswanya maka siswa tersebut akan selalu ingat apa yang dianjurkan gurunya. Seperti halnya seorang siswa yang suka dengan Spider-Man, maka siswa tersebut akan passionate dengan Spider-Man.
    Dan pastinya jangan paksa siswa untuk terus belajar dari pagi hingga sore ditambah jam kursus dll hingga siswa tidak memiliki waktu bermain dengan seusia mereka. Let it flow…

  15. Salam sahabat raharja,
    Menyikapi sebuah news diatas sebagai jawaban assignments ke 3 “Disiplin terstruktur IT” berkaitan dengan sebuah artikel yang berjudul Learning in the Matrix, berikut ini akan saya coba bahas secara ringkas bagaiman teknologi informasi pengaruhnya terhadap pendidikan disekolah tentunya berdasarkan unsur 3P yaitu penelitian, pandangan dan pengalaman.
    Dari hasil penelitian saya, pemerintah kita sudah ingin memajukan Teknologi Informasi untuk memajukan pendidikan di sekolah-sekolah, kebetulan saya pernah dipercaya oleh Dinas Pendidikan Kota Serang sebagai Team untuk mengecek pengadaan barang berupa PC Built- Up, Infokus, Kamera Digital dan juga koneksi internet yang saat itu Dindik bekerja sama dengan Telkom, tapi menurut saya pihak sekolah belum bisa memaksimalkan barang tersebut, karena komputer cuma digunakan untuk praktek office (word, Excel, power point), dan koneksi internet kebanyakan guru tidak tahu menahu apakah bisa dipakai atau tidak, padahal pemerintah menyediakan koneksi internet gratis.
    Menurut pandangan saya kenapa fasilitas dari pemerintah tidak maksimal digunakan karena Sumber Daya Manusianya juga masih belum memadai, kebanyakan guru tidak tahu cara menggunakan fasilitas dari pemerintah, dan menurut saya pemerintahpun belum maksimal dalam memberikan informasi kepada sekolah-sekolah ataupun guru-guru sehingga koneksi internet yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh siswa untuk mencari informasi seluas-luasnya menjadi terhambat karena pihak sekolah juga belum begitu mengerti cara menggunakannya.
    Siswa sekolah pada saat sekarang ini hampir semua sudah mengenal yang namanya internet, karena mudah sekali di akses, bisa dari Smart Phone, Netbook, Ipad dan sebagainya, sudah barang tentu kita sebagai orang tua atau guru harus lebih mengerti apa itu yang namanya internet agar bisa mengawasi anak-anak atau adik-adik kita,saya mempunyai adik dan kebetulan sudah mempunyai smart phone dan terkoneksi internet, sebelum saya serahkan sepenuhnya smart phone tersebut saya cek dulu fasilitas-fasilitan yang saya kira tidak perlu, seperti pemutar video dan juga youtube, jadi untuk aplikasi tersebut saya uninstall walau smart phone harus saya unroot terlebih dahulu, jadi adik saya cuma bisa akses game,playstore, telpon dan sms. Kembali lagi ke sekolah, saya rasa di sekolah sudah saatnya beralih dari buku cetakan ke buku elektronik karena bisa menekan anggaran untuk membuat buku cetakan tersebut, dan sebaiknya sekolah-sekolah juga harus menyediakan perpustakaan digital dan tentu saja dengan koneksi internet yang lancar, karena koneksi internet di Indonesia masih belum baik.
    Salam …..

  16. What should schools do? Apa yang harus sekolah lakukan ?

    Seperti yang telah termaktub dalam Hasil amandemen UUD 1945 Ke IV ( tahun 2002) yaitu tentang pendidikan disitu jelas menyebutkan peran pemerintah sangat dominan baik dalam anggaran pendidikan (Ayat 2 : Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya) dan (Ayat 4 : Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang kurangnya 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan nasional )maupun system pendidikan nasional, dalam ayat 5 disebutkan Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradapan kesejahteraan umat manusia

    Pada masa awal internet, masyarakat mengalami euforia. Semua orang ingin menggunakan internet. Sayangnya, antusiasme masyarakat ini tidak dibarengi dengan penciptaan manfaat internet. Pemerintah yang seharusnya menstimulasi tumbuhnya manfaat internet justru lebih disibukkan dengan upaya menangkal dampak negatifnya. Akibatnya, masyarakat seperti anak yatim yang berusaha sendiri mendapatkan manfaat dari internet. Kita bisa melihat bagaimana anak-anak muda membangun perusahaan digital. Kita bisa melihat ibu-ibu membuka usaha online.

    Penggunaan internet pada bidang pendidikan pun tidak optimal. Kebanyakan sekolah dan kampus hanya menggunakan sedikit sekali manfaat dari internet. Guru dan dosen memberi tugas pada siswa/mahasiswa dengan mencari bahan di internet. Siswa/mahasiswa yang mencari bahan di internet pun menemukan berbagai “harta-karun”. Alih-alih mengolah, mereka justru menggunakan bahan itu seutuhnya untuk memenuhi kewajiban mereka, alias menjadi plagiat.

    Penggunaan internet pada keluarga tidak kalah mengenaskan. Banyak orang tua menganggap internet sebagai mainan. Lagi apa anak anda? Itu di belakang sedang “main internet”. Banyak orang tua tidak sadar manfaat dan bahaya dari internet sehingga dengan mudah memberikan akses internet pada anak. Tak heran anak pun menggunakan internet hanya sebatas bermain games atau media sosial. Dan ironisnya, banyak anak mengakses tanpa dipandu atau didampingi oleh orang tua. Jangan melepas anak di hutan internet

    Apakah manfaat internet cepat sebatas untuk mengunduh bahan pelajaran? Apakah manfaat internet cepat sebatas untuk bermain games atau media sosial?

    Anak menemukan sumber pengetahuannya sendiri. Anak mempelajari sendiri pengetahuan itu. Anak pun membuat sendiri prakarya yang disukainya. Peran kami sebagai orang tua relatif minimal sekali. Proses belajar yang dialami Anak dan anak-anak lain ini adalah belajar yang sama sekali berbeda dengan proses belajar tradisional. Belajar tradisional mengikuti pola mengunduh (download). Belajar digital ala Anak mengikuti pola mengunggah (upload). Apa bedanya?

    Ini kisah Sugata Mitra dari India https://www.ted.com/talks/sugata_mitra_build_a_school_in_the_cloud
    Setelah melakukan serangkaian eksperimen, ia melakukan eksperimen mustahil di sebuah desa di India Selatan yang warganya hanya bisa berbahasa Tamil. Hipotesisnya: “bisakah anak-anak berbahasa Tamil di desa India bagian Selatan belajar Bioteknologi mengenai replikasi DNA dalam bahasa Inggris dari komputer di pinggir jalan?”. Bila diminta pendapat sebelum eksperimen ini, saya akan mengatakan belajar Biotekonologi itu sulit! Jangankan anak-anak itu, saya pun sangat sulit menguasainya. Jadi, mustahil hipotesisnya akan terbukti. Anda sependapat dengan saya kan?
    Tapi penilaian saya diputarbalikkan oleh hasil eksperimen Sugata Mitra. Setelah dua kali usaha eksperimen, Sugata Mitra memberi ujian Bioteknologi pada anak-anak desa itu. Hasilnya, hasil ujian anak-anak desa itu setara dengan hasil ujian sekolah swasta kaya yang mempunyai guru bioteknologi terlatih.

    Apa yang bisa kita pelajari dari eksperimen Sugata Mitra?
    1. Anak-anak adalah makhluk pembelajar. Orang dewasa tidak perlu membuat, apalagi memaksa anak belajar. Tugas orang dewasa adalah membolehkan anak belajar.
    2. Tiga kunci keberhasilan proses belajar: rasa ingin tahu anak, akses tak terbatas pada sumber pengetahuan dan dukungan semangat dari orang dewasa.
    3. Perlu perubahan peran orang tua dan guru dari sumber pengetahuan menjadi pemberi semangat pada anak-anak untuk melakukan eksplorasi dan menyelesaikan berbagai tantangan.

    Anak-anak kita adalah anak jaman digital. Mereka punya cara belajar yang berbeda dengan cara belajar kita. Mereka belajar jauh lebih cepat dengan pola belajar digital. Dan agar bisa belajar digital, anak-anak butuh internet cepat untuk mengakses pengetahuan, satu dari 3 syarat keberhasilan belajar hasil eksperimen Sugata Mitra. Biarkan anak mengeksplorasi tanpa kekhawatiran dilarang berulang kali oleh orang dewasa.

    Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Jawabnya adalah: Finlandia
    Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas! Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi negara dengan kualitas pendidikan nomor satu dunia?
    Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam per minggu.

    Lalu apa kuncinya?

    Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru!

    Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.

    Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.

    Ditanah air Indonesia, sebenarnya sistem pendidikan Finlandia telah terterapkan sejak tahun 1961 melalui wadah gerakan pramuka. Apa yang berlaku di Finlandia jelas-jelas merupakan sistem pendidikan yang berlalu di gerakan pramuka.

    Dimana setiap kecakapan dan keterampilan dibidang tertentu yang dimiliki oleh setiap anggota pramuka, bila sudah merasa mampu bisa mengusulkan diri untuk di uji.

    Disamping itu, setiap 32 orang anggota pramuka dibina oleh 3 orang pembina secara terus menerus. Akan tetapi sistem pendidikan kepanduan ditanah air ini tidak mendapat respon yang positif ditanah air.

  17. Salam hangat miters,

    Menyikapi sebuah news diatas sebagai jawaban assignments ke 3 “Disiplin terstruktur IT” berkaitan dengan sebuah article yang berjudul learning in the matrix, berikut ini akan saya ulas secara ringkas bagaiman teknologi informasi pengaruhnya terhadap pendidikan disekolah tentunya berdasarkan unsur 3P yaitu penelitian, pandangan dan pengalaman.
    Dari hasil penelitian dari beberapa sumber yang telah saya temuka dibebrapa artikel dapat saya katakan bahwa teknologi benar-benar mengambil alih kemampuan dasar hidup anak karena itulah, peran orang tua dan sekolah cukup besar untuk mencegah kondisi ini terjadi karena teknologi bisa menciptakan generasi anak menginginkan segala sesuatu secara instan lebih hebatnya apa yang anak inginkan semua sudah ada diinternet tanpa batas waktu dan tempat, Perkembangan internet dalam dunia pendidikan telah menghasilkan sebuah sistem pembelajaran jarak jauh. Dengan sistem ini maka seorang pelajar tidak perlu lagi pergi kesekolah seperti layaknya sekolah formal.
    Menurut pandangan saya jika ditinjau dari lingkar dunia edukasi, kehadiran teknologi informasi merupakan wahana yang terbaik untuk memudahkan para pelajar memperoleh akses data serta informasi yang tak terbatas seputar materi yang diajarkan di lingkup sekolah ataupun universitas. Namun, perlu diakui, akses yang tanpa batas tersebut kemudian dalam kondisi tertentu bisa berefek negatif. Terlebih jika tidak dibarengi pengawasan yang memadai.
    Dari pengalaman saya sebagai pendidik untuk anak-anakku tercinta perkembangan teknologi khususnya di bidang pendidikan dapat memajukan siswa agar lebih unggul dan lebih maju dalam penggunaan teknologi oleh karena itu perlu motivasi agar bisa lebih kreatif lagi dalam memanfaatkan teknologi yang berkembang dengan pembinaan lebih dini dari orang tua dan sekolah agar memperoleh hasil yang lebih baik.

  18. Bagaimana Standarisasi Pendidikan ini berkembang pada abad 21 (Era Internet) yang sangat cepat sekali dalam penyebaran informasi. seperti di indonesia, pemerintah harus menyesuaikan dengan kurikulum dan standart setiap tahunnya mengingat adanya globalisasi. Internet merupakan media yang menurut saya membuat kebudayaan kita menjadi global tergantung dari mana kita menilai baik atau buruknya. berdasarkan pengalaman saya mengajar di Perguruan Tinggi Raharja materi yang saya pergunakan harus materi yang update saya dapatkan itu di internet, seperti ilmu-ilmu baru yang harus saya pelajari secara cepat. Internet menurut saya sangat amat berguna bagi didunia pendidikan.
    Terima Kasih

  19. Dear Mr. UR
    Menurut saya ada faktor-faktor yang menghambat siswa kreatif/ bakat.
    1. Sikap guru 2. Belajar hafalan 3. Tekanan
    Sesuai dengan paragraf ke lima (5) pada artikel “WHAT SHOULD SCHOOL DO?” diperlukan pendekatan yang baru yaitu ada 4 P.
    1. Pribadi
    2. Pendorong
    3. Proses
    4. Produk .
    Sebagus apa pun alatnya kalau SDM (Sumber Daya Manusia) tidak ada. sia-sia saja.. itu kata saya ya. belum tentu kata orang lain. ..
    by. karwandi

  20. Semua sudah jaman komputer, dari usia dini sampai yang tua.mengenal komputer Tapi ingat dari faktor mental psikologi orang berbeda. Dalam dunia pendidikan bagi yang normal/ tidak ada cacat, mungkin sangat mudah menggunakan komputer dan internet. tapi bagi yang tuna netra/ idiot/ yang sekolahnya SLB, saya rasa kesulitan untuk menggunakan internet. karena yang tuna netra hanya menghapal tuts di keyboard.
    Mungkin ini tugas kita menciptakan suatu alat/ tutorial, agar saudara-saudara kita yang tuna netra bisa menggunakan internet.
    by. karwandi

  21. Dear pak UR,

    dari artikel learning in the matrix oleh graham glass mengenai metode belajar pada era non teknologi dan masa kini, dijelaskan bahwa telah terjadi perubahan culture dalam proses belajar khususnya belajar anak. Dahulu, seluruh informasi hanya bisa didapatkan secara satu arah, yaitu dari guru kepada murid. Namum sekarang, dengan perkembangan teknologi yang berkembang pesat terutama dalam bidang internet, informasi yang didapat bisa lebih fleksibel dari berbagai sumber.

    mari kita bandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dadan wahidin tahun 2008 dengan judul “Pemanfaatan Tekhnologi Informasi dan Komunikasi sebagai Media Pembelajaran” (dapat dilihat disini https://www.academia.edu/5368002/PEMANFAATAN_TEKNOLOGI_INFORMASI_DAN_KOMUNIKASI_SEBAGAI_MEDIA). penulis mengatakan bahwa “Kehadiran TI pada saat ini sudah tidak mungkin dihindarkan lagi. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan untuk menerima TI, dan kemampuan untuk memanfaatkanya seoptimal mungkin”. ini menunjukan bahwa proses belajar dalam dunia pendidikan harus juga mengikuti perkembangan teknologi sebagai infrastruktur guna mengoptimalkan hasil belajar.

    Menurut pandangan saya, pemanfaatan TI dalam dunia pendidikan sangat menunjang untuk mendapatkan informasi yang tidak terbatas, kita bisa mendapatkan apapun yang kita butuh dan inginkan, namun tentunya harus dibarengi dengan peralatan yang memadai pula. perangkat hardware dan software juga tentunya koneksi internet yang baik. selain itu pemahaman user/pengguna tentang penggunaan peralatan TI tersebut, karena akan percuma jika kita memiliki peralatan yang canggih namun tidak tahu cara memakainya. Atau hanya bisa pakai tanpa tau mengoptimalkan fungsinya.

    Pengalam saya sebagai salah satu mahasiswa pada mata kuliah Advance Information tekhnology, saya baru menyadari ternyata saya termasuk orang yang agak jadul (jaman dulu), pada mata kuliah ini metode pembelajarannya sangat IT,sesuai dengan nama mata kuliahnya. Awalnya saya agak kesulitan dengan metode belajar seperti ini, bahkan ada assignment yang belum selesai dikerjakan namun sudah due date. Saya menyadari hal itu terjadi karena saya kurang update atau bahasa gaulnya kurang melek teknologi. Untuk itu perlunya dibarengi antara perkembangan teknologi yang cepat dengan kemampuan kita sebagai pengguna teknologi, agar pengalaman yang saya alami tidak terjadi pada orang lain.

  22. Menurut saya inti dari article tersebut adalah metode belajar mengajar di sekolah, pada masa sebelum dan sesudah munculnya internet. Dan apa yang sekolah lakukan untuk mengimplementasikan kegiatan belajar mengajar dengan perkembangan internet tersebut.

    Untuk menanggapi artikel tersebut saya coba uraikan pemikiran saya.

    Pada 18 february 2014, badan PBB yang bergerak di bidang bantuan kemanusiaan dan perkembangan jangka panjang kepada anak-anak dan ibunya di negara-negara berkembang, UNICEF. Melakukan penelitian di Indonesia mengenai “Most children in Indonesia are online now, but many are not aware of potential risks”
    Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia. linknya dalah http://www.unicef.org/indonesia/media_22167.html
    Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa pengguna internet di Indonesia yang berasal dari kalangan anak sekolah diprediksi mencapai 30 juta anak, yang dimaksud usia anak sekolah dalam penelitian ini adalah anak berumur 10 – 19 tahun. Diambil 400 sampel diseluruh Indonesia didapat bahwa 98% anak di Indonesia tahu mengenai internet dan 79% adalah pengguna, maka 20% anak belum pernah menggunakan internet sama sekali.
    Perkembangan internet yang sangat cepat saat ini sudah merambah ke dunia pendidikan, sekolah harus dapat memanfaatkan ini untuk membuat menarik kegiatan belajar dan mengajar khususnya untuk anak usia sekolah. Sebelum era internet berkembang, anak sekolah hanya mendapat informasi dari sumber yang terbatas, bisa dikatakan informasi hanya berjalan satu arah, yaitu dari guru kepada murid. Sedangkan saat ini, kegiatan belajar mengajar pada siswa sekolah dapat lebih interaktif dan menarik dengan bantuan internet, informasi yang bersumber dari internet sangat banyak.

    Salah satu metode agar kegiatan belajar mengajar lebih interaktif dan menarik adalah dengan menerapkan program seperti E-Learning, sebagai contoh STMIK Raharja sudah menerapkan system ini, yaitu system 10 pilar IT iLearning (TPi), program ini sangat menarik dan interaktif.
    Penerapan system pembelajaran elektronik atau Elektronik Learning, pada bidang pendidikan dapat disesuaikan dengan tingkatannya, tentu penerapan E-learning di perguruan tinggi tidak sama dengan yang diterapkan di sekolah menengah atas maupun dibawahnya.
    Pengalaman ketika mendidik anak disekolah, dengan menerapkan penggunaan internet, siswa lebih antusias dalam mengikuti proses belajar mengajar, pendidik

  23. Belajar merupakan suatu hal yang sangat perlu oleh setiap manusia bahkan sampai kita mati, gengan mengacu kepada unsur 3P (Penelitian, Pandangan, Pengalaman) saya akan memberikan jawaban mengenai sebuah article menarik diatas :

    Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai sumber menyikapi persoalan teknologi informasi di lingkungan sekolah, Kehadiran teknologi multimedia/informasi, bukan lagi menjadi barang mewah karena harganya bisa dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat untuk memiliki dan menikmatinya. Artinya, sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu merangkul kehadiran teknologi dan informasi tersebut sehingga bisa menjadikannya sebagai media pembelajaran yang mudah dicerna, menarik, dan interaktif.

    Akan tetapi dalam pandangan saya kehadiran teknologi informasi didunia pendidikan sekolah seakan menjadi momok yang menakutkan karena tak ada yang bisa membatasi arus informasi dari berbagai media komunikasi. Oleh karena itu disamping harus mendukdung anak-anak didalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sekolah harus mampu mampu mengembangkan kecakapan personal secara optimal, kognitif, afektif, psikomotorik, emosional, dan spritualnya kepada seluruh peserta didik agar kelak mereka siap menjadi pribadi yang baik didunia yang penuh teknologi informasi.

    Berdasarkan hasil pengalaman didunia pendidikan terutama disekolah, pemanfaatan teknologi informasi sudah menyatu bagi kita.Sekolah sebagai wadah untuk mencetak generasi yang baru harus dapat membina dan mengarahkan para siswa didalam memanfaatkan media komunikasi teknologi dan informasi agar dapat menjadi pribadi yang siap dan dihormati oleh diri sendiri dan juga dimasyarakat didalam mengarungi era teknologi dan informasi yang penuh cita rasa.

  24. Perkembangan teknologi telah memaksa kita untuk tidak lagi harus berbicara secara formal didalam menjaring ilmu pengetahuan, hal ini karena media informasi telah hadir dalam berbagai bentuk teknologi yang memanjakan kita dengan segudang cara dan teknik secara sistematis contohnya ilearning dan elibrary.

    Dengan mengacu kepada unsur 3P berikut ini saya akan menjelaskan secara singkat dan padat bagaimana pengaruhnya perkembangan teknologi bagi pendidikan dan apa yang harus diterapkan oleh pendidikan khusunya sekolah didalam mengarungi derasnya arus teknologi dan informasi dijaman yang serba modern ini.

    Berdasarkan hasil penelitian dari beberapa sumber saya menemukan bahawa perkembangan teknologi informasi mengakibatkan adanya pertukaran informasi menjadi semakin cepat, transformasi ilmu jadi lebih mudah tidak terbatas waktu dan ruang. Tidak hanya dalam transformasi ilmu didalam pengolahan data contohnya data nilai, pembayaran, perpustakaan digital dll semakin mudah dan juga efisien baik dari segi waktu tenaga dan biaya. Pengaruhnya adalah terjadinya perubahan paradigma pendidikan dari paradigma pengajaran (teaching) menjadi paradigma pembelajaran (learning).
    Mengapa harus terjadi perubahan paradigma ? Karena, perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang begitu sangat pesat telah menyediakan lebih banyak beragam sumber belajar secara lebih mudah, murah dan cepat. Kini, sumber pengetahuan tidak lagi menjadi monopoli guru. Siswa dapat belajar dan menambah pengetahuannya tanpa perlu harus melalui guru dan datang ke school, karena siswa dapat langsung mengakses beragam informasi yang tersedia di “perpustakaan maya”, baik melalui fasilitas komputer pribadi (PC), laptop atau smartphone atau dengan cara pembelajaran ilearning. Suatu hal yang sangat luar biasa dalam hal beragam informasi atau pengetahuan yang tersedia dengan akses yang lebih mudah, cepat dan murah, yang dapat dilakukan kapanpun dan dari manapun.

    Dari pandangan saya teknologi memang dirasakan sangat penting hingga membuat kita tak bisa lepas dari genggamannya, namun begitu saya memandang perkembangan teknologi dan informasi tidaklah kita lepas begitu saja dari peranan kita baik sebagai pelajar, guru dan pegawai sekalipun karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini bisa membawa dampak buruk terhadap diri kita kita tidak hanya pada pelajar berbagai kejahatan dan tindakan kriminal sebagian besar terpicu karena perkembangan teknologi komunikaasi dan informasi ini oleh karena itu perlu adanya PENDIDIKAN KARAKTER untuk dapat membentengi kepribadian seseorang didalam mengarungi era teknologi ini, “Banyak orang tahu apa yang baik, berbicara mengenai kebaikan namun melakukan yang sebaliknya” itulah mengapa disini saya katakan PENDIDIKAN KARAKTER perlu kita tanamkan, dimulai dari pendidikan disekolah hingga perguruan tinggi.
    Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya). Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus DIBANGUN dan DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu PROSES yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.
    Pengalaman yang saya telah lalui ketika mejadi seorang guru memberikan jawaban bahwa pendidikan tidaklah cukup hanya sebabatas materi umum tapi juga perlu adanya pendidikan yang bisa membentuk kepada sebuah karakter yang mampu menghadapi era globalisasi yang dipenuhi teknologi informasi dan komunikasi dengan baik sehingga kelak mereka siap menjadi penerus yang disegani dan dihormati dimasyarakat secara umumnya didalam mengarungi hidup diatas arus teknologi informasi dan komunikasi.

  25. Dear pak UR
    Setelah say abaca articele yang berjudul What should schools do? maka inilah comment dan sekaligus jawaban saya untuk Assignment 2.
    Sebenrnya tujuan pendidkan dpat di lihat: http://belajarpsikologi.com/tujuan-pendidikan-nasional/
    Referrensi yang lain adalah: http://tujuanpendidikan.pendidikankreatif.com/
    Maka saya simpulkan. Sebenarnya jangan terlalu dipikirkan atau di perdebatkan. Kita tauh bahwa sekolah adalah bagian dari tujuan pendidikan, yaitu Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan , kepribadian, ahlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri.
    Sebenarnya teknologi dalam dunia pendidikan merupakan konsep teknologi pendidikan berupa media untk memeperlancar kegiatan belajar mengajar untuk meningkatkan produktivitas pendidikan. Teknologi sekarang ini menjadi sangat penting untuk berbagai aspek.baik aspek pendidikan aspek kebudayaan, aspek ekonomi, aspek social dan lain lain. Dengan teknologi informasi dan kimunikasi semua apa yang kita butuhkan dan kita mau akan mudah kita ketahui. Jadi di untuk meningkatkan pendidikan dan mencerdsakan di butuhkan teknologi informasi.
    Conto manfaat teknologi informasi bagitenaga pendidik:
    1.mencari bahan materi ajar yang akan di berikan kepada anak anak
    2. mencari akses sumber informasi
    3. alat untuk berdiskusi denagn anak anaka agar pengetahuan sanak semakain lauas
    4. mempermudah anak dididk dalam mengumpulkan tugas.
    Conto manfaat teknologi informasi bagi pendidik
    Sedangkan bagi peserta dididka dapat meningkatkan motivasi siswa mengembangkan itelektualnya

  26. Untuk P UR

    Perkembangan Tekhnologi informasi semakin maju, sehingga memudahkan kita didalam mendapatkan informasi dengan sangat mudah dan cepat.
    Tujuan dari pada lembaga pendidikan yaitu adalah mendidik akhlak, mencerdaskan anak bangsa, sehingga dapat membangun bangsa guna bermanfaat untuk Negara.
    Salah satu paragraph yang saya sukai dari artikel yang telah saya baca di atas yaitu “ Some schools are attempting to break out of the mold of delivering lecture-style blocks of canned information and trying new approaches that are better suited to the 21st century. But what approach should they take ? “, dimana pada paragraph ini mengutip tentang bagaimana pendekatan yang harus mereka ambil.
    Menurut pandangan saya pendekatan yang harus mereka ambil adalah menggabungkan antara perkembangan dunia tekhnologi dengan metode pembelajaran seperti yang biasa mereka lakukan yaitu memulai metede pembelajaran dengan menampilkan visual informasi seperti berupa video, music, dan game. Lalu setelah mereka sudah menampilkan mereka wajib memberi pandangan tentang apa yang telah di tampilkannya bisa berupa maksud, tujuan, manfaat dari yang telah di tampilkannya karena apa yang mereka lihat atau yang mereka dapatkan hanya gambaran umumnya saja maka dari pada itu mereka harus ada menterjemahkannya lebih detail.
    Mengapa seperti itu ?
    Karena berdasarkan pengalaman yang saya alami di dalam memberikan pembelajaran baik untuk Siswa ataupun pegawai saya terlebih dahulu menampilkan berupa visual informasi yang lebih tepatnya adalah Video Animasi Motivator yang bercerita tentang perjuangan untuk meraih kesuksesan. dan setelah itu baru saya menerangkan maksud,tujuan atau manfaat dari yang telah saya tampilkan dan responnya pun begitu cepat di tangkap. Saya dapat menyimpulkan cepat di tangkap karena banyaknya pertanyaan yang lebih mendalam tentang apa yang telah saya tampilkan.
    Mungkin pendapat saya sangat singkat tapi semoga saja dapat bermanfaat untuk sahabat raharja.
    Thanks AMC Raharja.
    Special To Pk UR

  27. Menurut pendapat saya, mengenai artikel What should schools do?
    berisi tentang kemajuan media informasi melalui internet. Seiring berkembangnya jaman, kini para siswa tidak hanya mendapatkan informasi dari penjelasan yang disampaikan oleh guru, ataupun dari perpustakaan yang ada pada sekolah. Dahulu kala harus mendengarkan penjelasan dari guru untuk mendapatkan informasi, mencatat dipapan tulis hingga menghabiskan waktu yang cukup lama, datang ke perpustakaan hanya sekedar mencari informasi melalui buku, belum lagi apabila perpustakaan tutup atau buku yang dicari tidak ada, tentu membuat kita sangat kecewa dan akhirnya kita tidak dapat mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Kini para siswa dapat dengan mudah mengakses informasi yang mereka butuhkan, mulai dengan menggunakan Hanphone, Laptop, PC, dan IPAD yang mereka miliki. Dengan tampilan yang lebih internet interaktif dan makin canggih, membuat para siswa tertarik untuk mempelajari dan mencari informasi yang mereka inginkan. Sejarah dari muncuklnya Internet lebih mendalam dapat dilihat pada artikel ini http://mit.ilearning.me/sejarah-internet/

    Menurut pandangan saya, kemajuan teknologi saat ini mutlak diperlukan. Tidak semua kemajuan teknologi membawa dampak negatif. Dengan semakin majunya teknologi khususnya pada teknologi yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran sangatlah diperlukan. Mengingat selama ini Indonesia sangat tertinggal dengan Negara-negara lain yang lebih awal telah menggunakan teknologi canggih dalam proses kegiatan pendidikan di Negaranya.

    Berdasarkan pengalaman saya sebagai tenaga pendidik di sekolah. Dunia pendidikan tanpa menggunakan teknologi IT terkadang membuat kita sulit dalam menyampaikan materi kepada siswa, terlebih lagi banyaknya administrasi guru yang perlu disiapkan oleh seorang guru dalam tahap proses menyiapkan administrasi pembelajarannya sampai proses pengolahan nilai yang dilakukan oleh guru. Seiring dengan di terapkannya kurikulum 2013 yang menekankan model pembelajaran berbasis IT. Kini saatnya mereformasi dunia pendidikan kita, agar dunia pendidkan kita dapat maju seperti negara lain, dan siswa dapat mengakses informasi dengan mudah seputar pelajaran yang mereka butuhkan.

  28. Dear pk UR

    Kemajuan teknologi baik sistem informasi baik hardware maupun software itu adalah salah satu bukti bahwa manusia dialam jagad ini memiliki prosessor yang luar biasa sekaligus bukti dengan perkembangan teknologi maju kian pesat sekaligus memotivasi semua orang untuk berkembang maju.
    Akan tetapi dr artikel diatas yg Ma’sum baca
    Tujuan :
    1. Penelitian
    Tujuan lembaga pendidikan harus bertujuan mendidik & mencerdaskan anak bangsa, membangun dan mengisi prosessor anak bangsa untuk berkompetisi dalam semua bidang ilmu.
    2. Pandangan
    Teknologi menjadi salah satu kebutuhan yang semua pihak diera sekarang ini, namun semua ada nilai positif dan negatifnya Namun peran lembaga khususnya lembaga pendidikan sangat mendukung dan sangat diperlukan.salah satunya media untuk mengeratkan persaudaraan kasih sayang solidaritas sesama manusia yg terkadang cenderung tidak bisa tercipta dikalangan pengguna teknologi yang susah untuk bersosialisasi
    3. Pengalaman
    Kasih sayang..perhatian dan pendekatan adalah wujud dari pembelajaran karena mengajar tanpa ada rasa kasih sayang ..perhatian dan pendekatan itu semua adalah ibarat alam yang terdiri dari berbagai makhluk …janganlah menjadi matahari yang selalu menyinari namun ciptakanlah keteduhan untuk kita berkumpul memadu persahabatan…berbagi ilmu dan motivasi untuk maju. Akan lebih baik jika sebuah lembaga memiliki interaksi yang tanpa batas.
    Salam Pribadi Raharja.
    Wassalam…” Thanks”

  29. Setelah saya baca article yang dimaksud, maka inilah comment dan sekaligus jawaban saya untuk Assignment 2.
    Satu kutipan yang sangat menyentuh saya adalah pernyataan bahwa saat ini, di mana teknologi informasi yang canggih sudah begitu melekat dalam setiap sendi kehidupan manusia, menyajikan apa yang manusia butuhkan (bahkan yang tidak terpikirkan sebelumnya) sekolah hendaknya harus mengubah paradigmanya dari sebelumnya menyampaikan informasi menjadi memberikan inspirasi, “… is that the primary role of schools should move from providing information to providing inspiration.” Kemudian pernyataan ini dipertegas pada akhir tulisan bahwa sekolah akan jauh lebih berhasil dalam membantu para peserta didik menemukan dan mengembangkan bakatnya masing-masing apabila :
    – memberikan informasi/ cerita inspiratif yang akan memotivasi anak menelusuri banyak hal.
    – memberikan tantangan peserta didik dengan tugas-tugas yang menyenangkan yang secara alami akan menumbuhkembangkan potensi terhadap topik yang terkait dengan tugas tersebut.
    Saya berpendapat bahwa dalam rangka menumbuhkembangkan potensi diri, tidak bisa sepenuhnya kita mengandalkan teknologi informasi saja, secanggih apapun itu teknologi. Sebab bagaimanapun manusia tidak bisa lepas dari kenyataan bahwa setiap individu dalam waktu bersamaan adalah makhluk individu dan sosial. Ketergantungan terhadap gadget, di satu sisi memang membawa kemajuan luar biasa dalam diri manusia (terutama pada apa yang diminatinya). Namun hal ini tidaklah memenuhi kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial yang perlu berinteraksi secara langsung terhadap lingkungan sekitar. Alhasil kepekaan sosial dewasa ini sudah hampir tidak lagi terasa, atau minimal berkurang. Media sosial tidaklah membuat anak menjadi pribadi yang percaya diri, tidaklah membuat anak mudah memaafkan, menghargai, memahami arti hak milik dan sebagainya. Jadi bagaimanapun peran sekolah atau eksistensi sekolah harus tetap terjaga, hanya saja memang harus lebih fokus kepada “memberikan inspirasi dan dorongan” untuk berkembang sesuai bakat masing-masing.
    Pengalaman selama menjadi peserta didik misalnya, memang cukup membosankan jika pengampu di depan kelas sekedar “transfer ilmu”. Jika paradigmanya seperti ini, sekarang para murid akan lebih pintar hanya dalam waktu semalam sebelum kelas dimulai dengan berbagai media yang tersedia. Kenyataannya beberapa kampus akan lebih banyak mendorong mahasiswanya mencari ilmu yang relevan untuk sharing dan berdiskusi di kelas. Inilah yang saya maksud akan ada pengembangan diri bagaimana etika berdiskusi, berinteraksi dengan orang lain, menghargai, memaafkan, mendengarkan, mengontrol emosi dan sebagainya yang tidak mungkin dipelajari hanya dengan surfing di dunia maya. Hal-hal tersebut hanya bisa “learning by doing” dan salah satu tempat yang paling representatif adalah sekolah atau kampus. Sebagai pengajar saya berusaha melakukan ini, sebab apa yang saya harapkan ketika menjadi peserta didik pasti mereka rasakan juga. Dan terbukti dengan banyak mengajak diskusi suasana perkuliahan jauh lebih atraktif, interkatif dan inspiratif bagi pengembangan diri secara umum.

    • Sudah bagus. Unsur penelitiannya masih kurang. Harus minimal satu hal yang kamu kutip dari tempat lain dan memperbandingkan dengan yang sekarang sedang dibahas.

  30. setelah saya teliti dengan adanya e-learning, faktor kehadiran guru atau pengajar otomatis menjadi berkurang atau bahkan tidak ada. Hal ini disebabkan karena yang mengambil peran guru adalah komputer dan panduan-panduan elektronik yang dirancang oleh “contents writer”, designer e-learning dan pemrogram komputer.
    Dengan adanya e-learning para guru/dosen/instruktur interaksi secara langsung dengan para murid hampir berkurang. Inilah yang menjadi ciri khas dari kekurangan e-learning yang tidak bagus. Sebagaimana asal kata dari e-learning yang terdiri dari e (elektronik) dan learning (belajar), maka sistem ini mempunyai kelebihan dan kekurangan.
    bukan hanya sekedar dari tenaga pengajar. dari sistem pemerintah pun saat ini sudah mulai merubah sistem pembelajaran dengan dikeluarkannya kurikulum 2013 yang menghasilkan penyesuain pola pikir dalam pembelajaran.misalnya saya kutip poin 2. yaitu “Kelas bukan satu-satunya tempat belajar ” dari poin ini juga dapat dilihat, kemana fungsi sekolah?.
    menurut pandangan saya sangat benar yang diutarakan oleh Graham Glass. harus ada pola pikir baru untuk mengidentifikasi dan mengembangkan bakat di sekolah, baik cerita inspirasi dan menantang para murid dalam pengupasan mata pelajaran. ada satu hal lagi sebenarnya yang penting agar sekolah selalu di segani oleh para murid, yaitu dengan adanya metode teaching yang menyenangkan, mengajar murid supaya mencari tahu, bukan diberi tahu, serta dengan adanya sarana olahraga yang dapat memberikan murid semangat untuk menggelutinya.
    saya memiliki pengalaman tentang hal tersebut. dengan metode-metode yang baru, bukan hanya mengajar secara pidato dan sebagainya, seorang pengajar akan memiliki ciri khas yang disegani oleh para murid. akan tetapi seorang pengajar yang tidak mengikuti dalam hal teknologi, sesungguhnya dia akan semakin malu, karena nantinya murid sudah tahu apa yang akan diajarkan oleh gurunya. oleh karena itu, harus ada keseimbangan sesuai yang diutarakan dalam artikel tersebut.

    sumber penelitian : ada di link jawaban assignment. terima kasih

  31. Dear Pak.UR

    3P yang saya terapkan pada tugas Assigment 3 yang diberikan oleh Bpk. Ir. Untung Raharja.,M.T.I. pada salah satu matakuliah di semester 1 yaitu Advanced Mastering in Information Tecnology (MIT).

    1. Penelitian

    Dalam penelitan tugas ini What should schools do? Apa yang harus sekolah lakukan ? pada artikel Learning in the Matrix adalah gambaran bagaimana kondisi model pembelajaran yang ada pada masa lalu dan model pembelajaran hari ini yang menggunakan perkembangan teknologi internet. Tetapi seharusnya kita mengetahui bahwasanya tujuan dasar dari sekolah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, keterampilan mandiri, berfikir rasional, berimajinasi dan menguasai IPTEK.

    Inilah kutipan selengkapnya ucapan Albert Einstein

    “I am enough of an artist to draw freely upon my imagination.Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand.”

    Apa yang belum diketahui dan dipahami melalui ilmu pengetahuan mutakhir, bibitnya telah tersemai dengan aman dalam imajinasi. Imajinasi ini kelak merupakan sumber pengembangan ilmu pengetahuan. It is, strictly speaking, a real factor in scientific research (Hal ini faktor nyata dalam penelitian ilmiah).

    2. Pandangan

    Perkembangan tren teknologi hari ini adalah biasan dari imajinasi masa lalu yang mengharpakan perkembangan teknologi bisa masuk kedalam semua aspek baik dalam dunia, Pendidikan, Kesehatan, Pemerintahan, Bisnis dll. Sebagai media/alat bantu ekstensi diri manusia.

    Eksistensi Sekolah/ Kampus/Lembaga Pendidikan menurut saya masih sangat diperlukan karena keberadaannya bukan hanya tempat untuk anak mengakses informasi seperti yang di jelaskan pada artikel Learning in the Matrix. Lebih dari itu Lembaga Pendidikan dijadikan sebagai pusat tempat pembentukan karakter, pengembangan diri bahkan pusat peradaban.

    Sejalan dengan perkembangan teknologi hari ini Lembaga Pendidikan dituntut agar mendorong siswa untuk mengidentifikasi dan mengembangkan bakat siswa, bercerita inspirasi, memotivasi, mengeksplorasi berbagai mata pelajaran dan memberikan tantangan proyek-proyek yang menyenangkan sesuai dengan perkembangan Abad 21 sesuai yang ada pada artikel tersebut.

    3. Pengalaman

    Setalah 5 tahun lamanya akhirnya pengalaman mengajar saya jadikan sebagai guru pribadi untuk perbaikan diri mulai dari metode, materi, trik dan gaya mengajar saya.

    Mendidik jauh lebih baik dari pada mengajar. Pendidikan merupakan kegiatan integratif olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik.

    Setelah penerapan model pembelajaran iLearning di Perguruan Tinggi Raharja saya langsung mengadopsi dan menerapkan model pembelajaran ini kedalam metode dan model pembelajaran di SMKN 1 Cilegon dengan menggunakan bantuan Aplikasi Pembelajaran kelas maya edmudo.com.

    Harapan saya semua tenaga pendidik di ×Indonesia menerapkan pembelajaran dengan mengintegrasikan model pembelajaran yang sudah matang dengan munculnya perkembangan teknologi IT “Integrating mature and Emerging technology” agar pendidikan di ×Indonesia lebih maju.

    Jawaban tersebut saya buat positing di site iMe agar lebih menarik dengan bantuan visualisasi http://lukmanfaruk.ilearning.me/?p=33

  32. Dear Mr. Untung
    Saya ingin menyampaikan tentang artikel teknologi Sony Ericsson
    Penelitian
    Salah satu perusahaan terbesar Swedia adalah penyediaan telekomunikasi terkemuka dan sistem komunikasi data, dan layanan terkait yang meliputi berbagai teknologi, temaksud khusus jaringan seluler.
    Sony Ericson didirikan pada tahun 1876 sebagai took peralatan telegram oleh LARS MAGNUS ERICSSON. Kantor pusat di Kista, kota Stockholm.

  33. Dear Mr Untung
    Saya ingin menyampaikan tentang artikel teknologi Iphone
    Penelitian
    Menurut penelitian yang dilakukan oleh Battery Ventures seperti yang dilansir oleh T3 (9/5), pengguna iPhone cenderung minum wine ketimbang bir. Mereka juga lebih suka bepergian menggunakan pesawat. Singkatnya, riset ini membuktikan bahwa pengguna iPhone adalah kalangan orang-orang yang ‘berduit.’
    Pandangan
    Menurut saya produk iphone itu didesign untuk memudahkan seorang user dapat berinteraksi dengan teknologi yang canggih dapat memudahkan menggunakan dibandingkan dengan brand yang lain masih kurang berinteraksi dengan teknologi.
    Pengalaman
    Menurut pengalaman saya dalam menggunakan Iphone 4 aplikasinya bagus, cameranya jernih, untuk layar lebih responsif

  34. Dear pk UR
    Disini ofa ingin bbc ni untuk artikel learning in the matrik
    Kemajuan teknologi baik sistem informasi baik hardware maupun software itu adlah gambaran kemajuan dunia
    Akan tetapi dr artikel diatas yg ofa baca
    Apa tujuan sekolah.. Apa yang di lakukan sekolah dari artikel Learning in the matrix
    Ini bbc ofa
    1. Penelitian
    Tujuan sekolah itu mendidik & mencerdaskan anak bangsa, mnjadikan setiap insan manusia itu memiliki pengetahuan kemampuan dan berdaya saing dg insan yg lainnya dari artikel yang ofa baca bisa dilihat disini
    http://yapimkisaran.eu5.org/index.php?option=com_content&view=article&id=60&Itemid=58
    2. Pandangan
    Teknologi memang hampir digunakan disemua aspek kehidupan manusia di era saat ni apalagi teknologi komputerisasi berbasis internet
    Sudah bnyak teknologi canggih yg bisa digunakan kpanpun dimnapun saat kita butuh informasi jasa apapun yg kita perlukan
    Namun peran sekolah adanya sekolah seperti kampus menurut ofa sangat diperlukan walaupun sekarang teknologi super canggih dg teknologi kita bisa mnambah wawasan dengan cepat dn akurat tetapi masih kekurangan bagi ofa karena kita mahluk sosial yang harus berkomunikasi berinteraksi satu dengan yang lain
    Meski sekarang bnyk media jejaring sosial untuk bersosialisasi berkomunikasi tetapi akan terasa berbeda dibanding hanya berkomunikasi lewat teknologi
    Sekolah bukan sekedar untuk kegiatan belajar mengajar disekolah atau lembaga pndidikan tetapi untuk mengeratkan persaudaraan kasih sayang solidaritas sesama manusia yg terkadang cenderung tdak bisa tercipta dikalangan pengguna teknologi yang susah untuk bersosialisasi
    Mka dari itu perananan dn sekolah itu penting
    3. Pengalaman
    Mengajar bukan hanya mendidik supaya cerdas saja tetapi mengajar itu juga kasih sayang
    Dimana seorang pengajar bukan hanya memberi materi tp bertanggung jawab pada etika bagus tidaknya pribadi seseorang sehingga layak disebut manusia yang berkualitas karena itu kita butuh sekolah untuk merealisasikan hal tersebut pengalaman dulu saat ofa belajar jaringan sendiri itu terasa lebih sulit tanpa istruktur didekat kita
    Akan lebih baik jika lembaga pendidikan memiliki sistem komputerisasi yg canggih keduanya saling berkaitan seperti raharja….
    Thanks

    • Memang bisa lebih baik, tapi seperti ini cukup. Memang ada unsur 3P, tapi sebenarnya tidak harus terlalu gamblang 1 2 3, sehingga terlihat agak kaku.

    • Mantap jawabnya, semangat sekali…….
      Maaf ada kalimat yang terbalik kayannya dalam jawaban Bu.Ofah “Mengajar bukan hanya mendidik supaya cerdas saja tetapi mengajar itu juga kasih sayang”
      Thank U…..

    • Dear Pak.UR

      saya coba untuk menerapkan 3P untuk tugas ke 3 ini Learning in the Matrix

      Dalam artikel yang berjudul What should schools do? Apa yang harus sekolah lakukan ? Ada yang perlu diketahui yaitu definisi sekolah “ adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa / murid di bawah pengawasan guru ( http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah ). Kemudian tujuan dari sekolah adalah tentang mengajarkan anak untuk menjadi anak yang mampu memajukan bangsa ( http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah ). Setelah itu Tujuan Pendidikan (Kemdiknas): “Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”( http://id.wikipedia.org/wiki/Tujuan_pendidikan ). Jadi jika melihat dari tiga definisi tersebut, saat ini Indonesia sudah sepantasnya untuk menciptakan generasi yang cerdas, berilmu, tidak lupa beriman agar siap menghadapi persaingan yang semakin keras

      Saat ini teknologi informasi dan komunikasi dalam pengaruhnya pada kehidupan manusia saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok, adanya teknologi yang terus berkembang menjadikan manusia mudah untuk berkomunikasi satu sama lain, yang akibatnya ada proses sharing informasi pengetahuan antara manusia satu dengan mansuia lainnya, yang pada akhirnya kemajuan teknologi semakin maju pesat dan diketahui oleh semua golongan. Adanya hubungan timbal balik antara komunikasi dan teknologi dalam peranannya pada kehidupan manusia, menjadikan seluruh kegiatan manusia individu atau kelompok tidak berjalan tanpa adanya teknologi, salah satu contoh lingkungan yang tidak bisa terlepas dari hal tersebut adalah lingkungan pendidikan baik formal atau non formal.
      Oleh karena itu menurut pendapat saya untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara maksimal maka diperlukan proses pembelajaran yang kondusif dengan melibatkan semua komponen pembelajaran secara optimal mulai dari sarana, prasarana, tenaga pengajar yang berkualitas yang tidak pernah lupa peranan kasih sayang pada saat mengajar, mendidik, dan transfer ilmu. Salah satu komponen penting yang menjadikan proses pembelajaran menjadi lancar dan kondusif adalah adanya komunikasi yang aktif dan dinamis antara pemeran dan pendukung siswa belajar.

      Berdasarkan pengalaman, saya lebih menyukai untuk menggunakan kata transfer ilmu dan mendidik dibandingkan dengan mengajar, karena sekarang ini tidak menutup kemungkinan mereka yang akan kita berikan informasi ternyata sudah mengetahui, memiliki bahkan menguasai informasi yang akan disampaikan, jadi sebagai pendidik kita harus sering mengingatkan apa sisi positif dan negatif dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Ada tanggung jawab dan beban moral sebagai seseorang yang diberi amanat untuk mentransfer ilmu dan pendidik, beberapa diantaranya kita harus bisa mempertanggungjawabkan atas materi yang kita berikan, memberikan contoh bagaimana bersikap baik, sopan, dan beretika didalam lingkungan pendidikan dan diluar pendidikan, dalam menggunakan teknologi secara positif, dan juga mengajarkan cara berdisiplin dan semuanya hal tersebut diberikan dengan kasih sayang. Saya selalu berharap di tempat saya mendidik dan mentransfer ilmu apa yang sebutkan sebagai tanggung jawab dan beban moral itu bisa diterapkan. Jadi tidak hanya menambah fasilitas bangunan, tekhnologi yang canggih, tapi melupakan etika dan sopan santun

Leave a Reply